Global Investigative Journalism Conference

Tanggal 11-14 September 2008 di Norwegia akan diselenggarakan Global Investigative Journalism Conference. Diperkirakan sekitar 500 jurnalis dari berbagai negara akan datang dan berbagi pengalaman bagaimana menginvestigasi berbagai isu. Ini sebuah peluang bagi teman-teman jurnalis yang pernah membuag investigative reporting dan berminat berbagi pengalaman, di bawah ada informasi akan ada peluang mendapatkan grant untuk berangkat ke Norway .

Ada beberapa topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut, ada satu  diantaranya mengenai jurnalisme lingkungan dan climate change.

Informasi detail mengenail kegitaian tersebut silahkan melihat situs web-nya: http://www.gijc2008 .no/

………………..

Grants for investigative reporters

Investigative journalists from Russia (and the former U.S.S.R), Eastern Europe, The Balkans, Caucasus, Middle East, Asia, Africa and Latin America are now welcome to apply for grants that will cover their travel and stay at the Global Investigative Journalism Conference 2008 at Lillehammer, Norway.

Jan Gunnar Furuly, 04.03.2008 16:09

Radisson SAS Hotel Lillehammer

Radisson SAS Lillehammer is the host hotel for the fifth Global Investigative Journalism Conference between 10th and 14th of September 2008. Foto: Radisson SAS.

We especially invite journalists who are willing to show and share their experiences and work, through presentations at the conference. If you are able to demonstrate how you worked with your life’s best investigative story, you might pick up free tickets and stay at the conference in the olympic city of  Lillehammer ,  Norway .

Our goal is to gather some of the world’s best examples of investigative journalism in recent years. Between 400 and 500 investigative reporters are expected to participate at the conference.

The main focus during seminars will be journalistic work methods, how journalists are using their skills, patience, eagerness to dig up dirt and neat techniques to get in touch with sources, better research material and in the end, good stories that makes a difference.

We are also going to cover how difficult it is to do investigative journalism in certain parts of the world.

GIJ2008 is also going to be a unique place to do networking to get your own global contact net. We intend to facilitate trans-national investigative journalism cooperation on the topics you cover.

Funding from SKUP (The Norwegian foundation for investigative journalism), Norway ’s Foreign Ministry and cooperating investigative journalism organizations will help us make the Lillehammer event a true Global conference.

Please send your applications to gijc2008@gmail. com.

Please supply the application with your CV, a short summary of your work in the field of investigative journalism and personal references. It will also help us if you can get references from organizations working with investigative journalism.

Our final application deadline is 25th March. Applications will be evaluated as they come in. You will be hearing from us regarding your application!


Add comment Juni 17, 2008

Bersama Mengatasi Perubahan Iklim

Sebuah komunitas baru yang komitmen dengan penangan perubahan iklim di Indonesia bernama Jaringan Masyarakat Indonesia untuk Perubahan Iklim (JAMPI) atau Indonesian Soceity for Climate Change (IStoCC) resmi berdiri pada tanggal 8 Juni 2008, yang diawali sebuah pertemuan nasional mendorong partisipasi masyarakat dalam penanganan perubahan iklim yang berlangsung pada tanggal 7-8 Juni 2008 di Hotel Atlet Century Jakarta yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup yang dihadiri oleh multistakeholder di Indonesia.

Menjelang pernas ditutup berbagai usulan muncul tentang perlunya ada wadah yang bisa menjadi media sharing informasi dan belajar bersama dalam penanganan perubahan iklim di Indonesia. Berbagai usulan nama pun muncul, diantaranya ada yang mengusulkan nama Komnas Perubahan Iklim, Working Group Perubahan Iklim, Aliansi Masyarakat untuk Perubahan Iklim, Front Perubahan Iklim (FPI), dan Jaringan Masyarakat Indonesia untuk Perubahan Iklim.

Dari sekian nama itu, setelah melalui diskusi yang cukup alot, yang dipandu oleh Azaz Togar dari LSM FAKTA Jakarta dan Hendri Bastaman (Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup), akhirnya seluruh peserta pernas perubahan iklim yang berasal dari berbagai profesi, NGO, Organisasi Pemuda, Pers, Kalangan Kampus dan organisasi profesi dan dunia usaha sepakat menghimpun diri dalam Jaringan Masyarakat Indonesia untuk Perubahan Iklim (JAMPI), setelah peserta kembali memilih 15 tim perumus yang melibatkan berbagai profesi.

Setelah resmi terbentuk, tim peremus sepakat menjadikan mailinglist sebagai salah satu media bersharing berbagai informasi tentang aktivitas JAMPI dan informasi penanganan perubahan iklim lainnya yang dilakukan oleh berbagai pihak. Saat ini Jampi telah memiliki milis beralamat : perubahaniklim@yahoogroups.com. atau http://asia.groups.yahoo.com/group/perubahaniklim/

Mailinglist tersebut juga terbuka bagi publik termasuk para blogger yang care dengan isu penanganan perubahan iklim. Kalau ada yang tertarik silakan bergabung dengan cara mendaftar diri di mailinglist tersebut atau mengirim email pribadi ke moderator milis: marwanazis@gmail.com, nanti akan invite dan daftar sebagai anggota milis perubahan iklim.

Mailinglist perubahaniklim@yahoogroups.com yang merupakan media bersharing, belajar tentang penanganan perubahan iklim yang dilakukan oleh berbagai pihak yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Indonesia Untuk Perubahan Iklim (JAMPI) maupun pihak lainnya yang mau berbagai informasi, tips tentang ramah lingkungan dalam mengatasi dampak perubahan iklim.
(Marwan Azis)

Adapun Tim Perumus Jaringan Masyarakat Indonesia Untuk Perubahan Iklim (JAMPI) :
1. Azaz Tigor Nainggolan SH (Advokat)
2. Bibong
3. Crisnawati
4. Cokorda Oka Yudhana SH (Kaukus Lingkungan Hidup)
5. Nurlini (Organisasi Perempuan)
6. Unsur Kepemudaan (KNPI)?
7. Harfin (Ormas)
8. Ahmad Djuhara ( Asosiasi Profesi)
9. Sri Utama (Perguruan Tinggi)
10. Gus Hafids (EPW)
11. Marwan Azis (Green Press)
12. Alfreed (LSM Lingkungan)
13. Jackie Ambada (Dunia Usaha)
14. Iman Zainal (Mahasiswa UI)
15. KLH.

1 comment Juni 13, 2008

Membesarkan Sastra, Membesarkan Media

PERKEMBANGAN
sastra di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya peran
media. Media dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa
dipisahkan. Sejarah media (tertulis/tercetak) dimulai ketika Gutenberg
berhasil menciptakan mesin cetak. Sejak itulah mulai bermunculan
pengarang-pengarang dengan karya-karya mereka. Berbagai media yang
bermunculan turut membidani lahirnya pengarang-pengarang hebat dan
memprakarsai terbentuknya sejarah literasi, termasuk di Indonesia.

Contoh media yang turut membidani penulis/pengarang, karya sastra,
dan budaya literasi di Indonesia adalah penerbit Balai Pustaka (berdiri
pada 1917-sekarang) . Balai Pustaka ini melahirkan para
sastrawan/pengarang nasional seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Sutan
Takdir Alisjahbana, dan sebagainya. Bahkan, pengarang-pengarang ini
kemudian menamakan diri sebagai angkatan Balai Pustaka. Saking
berpengaruhnya keberadaan Balai Pustaka (sebagai media) terhadap
pengarang-pengarang dan karya-karyanya.

Tulisan ini secara khusus menyoroti sepak terjang Forum Lingkar
Pena (FLP) yang digawangi oleh tiga wanita “perkasa” , Helvy Tiana Rosa
(UI), Asma Nadia (IPB), dan Muthmainnah (Unpad). FLP mulai lahir dari
rahim kejengahan karya sastra yang merebak. Jengah, karena ketiga
pupuhu FLP ini merasakan betul dan merindukan karya sastra yang
mencerahkan.

Maka, dengan bismillah, pada 22 Februari 1997, lahirlah komunitas
ini dengan anggota awal 30 orang. Sekarang, tercatat lebih dari 100
kota di Indonesia dan beberapa negara memiliki wilayah/cabang/ ranting
FLP dengan total anggota sekitar 5000 orang, 500 orang di antaranya
menjadi penulis dan telah menerbitkan lebih dari 500 judul karya.

Kehadiran FLP membawa angin segar bagi perkembangan sastra
Indonesia. Mereka (FLP) membawa genre baru dalam ranah sastra negeri
ini, yang kemudian dilabeli sastra islami.

Lalu, apa hubungan
FLP dengan media dan karya sastra? FLP ibarat tempat pertemuan arus
panas dan dingin yang menyebabkan plankton banyak berkumpul sehingga
mengundang berbagai jenis ikan berkumpul di sana. FLP yang saat itu
“berkoalisi” dengan majalah Annida, mengundang calon-calon atau
nelayan-nelayan profesional untuk mencari ikan di tempat pertemuan arus
panas dan dingin itu. Banyak generasi muda (didominasi aktivis dakwah
kampus), berbondong-bondong masuk ke dalam komunitas FLP.

“Koalisi” antara Annida dan FLP ini ibarat simbiosis mutualisme,
saling menguntungkan. FLP menjadi dikenal masyarakat luas karena media,
dan Annida juga menjelma menjadi majalah remaja yang dikenal luas oleh
masyarakat. FLP dan Annida ini kemudian turut membidani lahirnya
penulis-penulis muda berbakat semacam Jazimah Al Muhyi, Syamsa Hawa,
Koko Nata Kusuma, Irfan Hidayatullah, Habiburahman El Shirazy, serta
tak ketinggalan ketiga pupuhu FLP, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan
Mathmainnah.

Geliat sastra atau fiksi islami ini kemudian terendus oleh
penerbit-penerbit kecil yang juga memiliki afiliasi yang sama dengan
FLP. Seperti penerbit Zikrul Hakim. Penerbit yang semula menerbitkan
kitab-kitab Yaasin dan Juz ¢Ama ini mengaku beruntung dengan
booming-nya fiksi islami pada tahun 2000. Sekarang, Zikrul Hakim telah
menjelma menjadi salah satu penerbit yang disegani di ranah penerbitan
Indonesia. Kemudian diikuti oleh Gema Insani Press (GIP), INDIVA Media
Kreasi, Syamiil Bandung, dan sebagainya. Bahkan, penerbit-penerbit
besar juga tak ketinggalan meramaikan momen ini, seperti penerbit
Gramedia, Mizan, dan sebagainya.

Begitulah, Annida membesarkan FLP, FLP membesarkan Annida, kemudian
lahirlah penerbit-penerbit- -awalnya penerbit kecil–besar sebagai efek
dari “koalisi” antara FLP sebagai representasi dari sastra (fiksi) dan
Annida sebagai representasi media. Seperti inilah seharusnya atmosfer
literasi kita terbangun. Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin
kalau bangsa kita akan mengalami kemajuan yang signifikan.

Maka, tidaklah berlebihan jika sastrawan sekelas Taufik Ismail
mengatakan, “FLP adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia!” Semoga
demikian. (Fatih Beeman, mahasiswa Jurusan Mankom Fikom Unpad, penulis
buku “Beginilah Seharusnya Hidup”, dan bergiat di FLP Jatinangor) **

Sumber:
http://newspaper. pikiran-rakyat. co.id

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Add comment Juni 13, 2008

Walhi Benarkan Tulisan Tempo Soal Pembalakan Liar

Dalam setahun, menurut dia, mereka membutuhkan 16 juta meter kubik kayu untuk membuat 2 juta ton bubur kertas.
Jakarta, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Riau Johny S. Mundung kemarin bersaksi dalam sidang gugatan perdata oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terhadap Koran Tempo. Ia menilai berita Koran Tempo tentang pembalakan liar di Riau benar adanya. “Dari citra satelit, luas hutan di sana dari 9,2 juta hektare sekarang tinggal 1,2 juta hektare,” ujar Johny di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Johny mengatakan pembalakan liar diduga melibatkan dua perusahaan bubur kertas dan anak usahanya di Riau. Dalam setahun, menurut dia, mereka membutuhkan 16 juta meter kubik kayu untuk membuat 2 juta ton bubur kertas.

RAPP menggugat Koran Tempo sebesar Rp 1 miliar karena merasa dirugikan oleh pemberitaan koran ini. Pemberitaan yang dipermasalahkan perusahaan kayu milik pengusaha Sukanto Tanoto itu adalah “Pertikaian Menteri Kaban dengan Polisi Memanas” (edisi 6 Juli 2007), “Polisi Bidik Sukanto Tanoto” (edisi 12 Juli 2007), dan “Kasus Pembalakan Liar di Riau, Lima Bupati Diduga Terlibat” (terbitan 13 Juli 2007).

Di persidangan itu Johny lalu menunjukkan data pembalakan liar di Riau. Dia juga memperlihatkan rekaman video yang menggambarkan tumpukan kayu yang diduga hasil illegal logging dan operasi pemberantasan pembalakan liar oleh kepolisian Riau.

Menurut Johny, polisi tengah menyidik kasus pembalakan liar yang diduga melibatkan perusahaan-perusahaan itu. “Ada 25 perusahaan yang sedang disidik kepolisian Riau,” ujarnya. Perusahaan yang tengah disidik polisi antara lain anak usaha RAPP.

Perihal pemberitaan di Koran Tempo, Johny mengakui dihubungi wartawan Koran Tempo. Menurut dia, pemberitaan sejenis juga dilakukan media massa lain di Riau.

Adapun kuasa hukum RAPP, Hinca I.P. Panjaitan, memprotes kesaksian Johny. “Sidang ini untuk kasus perbuatan melawan hukum dalam pemberitaan, bukan masalah kerusakan hutan di Riau,” ujarnya. Dalam sidang itu pihak kuasa hukum RAPP tidak menggunakan kesempatan bertanya kepada saksi. Dia hanya meminta keberatan pihak RAPP itu dicatat oleh hakim.

Sebelum sidang dimulai, Komite Anti-Penghancuran Hutan Indonesia sempat berdemo di depan pengadilan. Mereka meminta majelis hakim yang diketuai Eddy Risdiyanto menolak gugatan tersebut. Komite yang beranggotakan Aliansi Jurnalis Independen, Walhi, dan Green Press itu menggelar orasi dan membentangkan spanduk serta poster yang isinya mengecam pembalakan liar di Riau.Sukma | Sutarto

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/2008/05/07/headline/krn,20080507,15.id.html

Add comment Mei 31, 2008

Kantor Perusahaan Sukanto Tanoto Didemo

Jakarta - Sekitar seratus orang dari Komite Anti-Penghancuran Hutan Indonesia, yang merupakan para penggiat lingkungan dan kebebasan pers, berunjuk rasa di depan kantor perusahaan milik Sukanto Tanoto, PT Riau Andalan Pulp & Paper, di Jalan Teluk Betung, Jakarta Pusat. Dalam orasi kemarin para pengunjuk rasa menentang aksi pembalakan liar.

Para penggiat lingkungan ini mendesak penegak hukum tegas menindak para pembalak liar dan para tersangka yang tengah dalam proses hukum. Mereka meminta hakim menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Para penegak hukum juga diminta mengusut tuntas pembalakan dengan kedok izin pemanfaatan hutan. “Seluruh masyarakat menderita karena aksi para pembalak liar,” kata koordinator aksi, Erwin Usman, dalam orasinya.

Sebelum di Teluk Betung, massa bergerak dari Bundaran Hotel Indonesia. Aksi di depan kantor perusahaan Sukanto Tanoto ini berlangsung hingga sore kemarin. Komite itu merupakan gabungan para penggiat dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Eksekutif Nasional, Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dan Green Press, Walhi Jakarta, Sahabat Walhi, Sarekat Hijau Indonesia, serta Green Student Movement. Selama aksi, sekitar dua puluh polisi membuat pagar betis di depan pintu gerbang kantor.

Para pengunjuk rasa menyoroti serangan balik mafia kayu Indonesia, seperti Sukanto Tanoto dan Adelin Lis, terhadap media yang kritis memberitakan sepak terjang mereka. Namun, para pendemo tak diizinkan memasuki kantor yang dibatasi pagar setinggi sekitar tiga meter.

Syahrul, orator lainnya, mengatakan pembalakan liar atas nama izin konsensi Sukanto Tanoto menyengsarakan rakyat dan merusak hutan. Bahan mentah industri kertas Sukanto sebagian besar diduga dari hutan alam. Pembalakan liar yang berkedok hak atas penggunaan hutan dinilai paling merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Pendemo mendesak pemerintah tegas menerapkan jeda tebang (logging moratorium) selama 15 tahun di kawasan hutan baru untuk kepentingan perkebunan besar, hutan tanaman industri, HPH, dan pertambangan besar.

Juru bicara Riau Andalan, Troy Pantau, membantah semua tuduhan para demonstran. Alasannya, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut mengolah hutan sesuai dengan peraturan. “Sudah ada lembaga audit yang mengawasi, termasuk asal-usul bahan baku kayu,” kata Troy.

Riau Andalan, kata Troy, juga sudah memiliki sertifikasi pemanfaatan hasil hutan. “Kami sudah meneken komitmen tanggung jawab lingkungan dan sosial bersama perusahaan di dunia,” kata dia.

Di tempat terpisah, ahli hukum pidana Universitas Indonesia, Rudi Satrio, menilai pemeriksaan pejabat publik yang diduga terlibat kasus pembalakan liar tak memerlukan surat izin presiden. “Menyidik kasus semacam ini seharusnya tak perlu surat izin,” kata Rudi dalam diskusi “Kontroversi Kasus Hukum Pembalakan Liar” di Restoran Bebek Bali, Jakarta.

Menurut Rudi, prosedur perizinan, dalam beberapa kasus, dinilai cenderung menghambat penelusuran aktor intelektual dan akar masalah. Padahal, kata dia, penegakan hukum tidak harus terhambat birokrasi.

Praktisi hukum Bambang Widjojanto menilai bukan rahasia kasus pembalakan liar melibatkan orang kuat. Sebenarnya, kata dia, mudah menemukan indikasi keberadaan pihak ketiga itu. “Indikasi sudah ada ketika kayu gelondongan dibawa ke luar hutan tanpa izin dan selamat ke tujuan,” kata dia.

Namun, Bambang menganggap pengusutan kasus itu gampang tapi susah. Gampang, kata dia, karena barang buktinya nyata. Susah, katanya, karena landasan hukum karut marut, tidak sinkron, dan pemahaman peraturan yang berbeda. “Penegak hukum gagal di pengadilan, bahkan mengungkap kebenaran,” katanya. MUSTAFA SILALAHI | TITIS SETIANINGTYAS | DESSY PAKPAHAN. Sumber :  Koran TEMPO (23 Nov 2007)

1 comment Mei 31, 2008

Greenpress-AJI- Bapeddalda Gelar Lomba Menulis Lingkungan di Kendari

Kendari, Greenpress- Guna menumbuhkan kecintaan lingkungan dikalangan pelajar dan memeriahkan hari lingkungan hidup sedunia tanggal 5 Juni mendatang, Bapedalda Sultra bekerjasama dengan organisasi wartawan yaitu AJI Kendari dan Green Press Kendari akan mengadakan lomba menulis lingkungan tingkat pelajar (SD, SLTP, SMU dan sederajat) se-Kota Kendari.

Kepala seksi pengembangan kapasitas lingkungan Bapedalda Sultra Deden M mengatakan, kegiatan dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian dan kecintaan masyarakat Kendari akan pentingnya mengenali lingkungan dan persoalannya. “Kepedulian terhadap lingkungan harus ditanamkan sejak dini kepada pelajar, sehingga mereka dapat mengenal dan mencintai lingkungan minimal di sekitar tempat mereka,” ungkapnya.

Tema penulisan lingkungan tahun ini secara nasional adalah “Ubah perilaku dan cegah pencemaran lingkungan,” sehingga lanjut Deden daerah menyesuaikan saja. Adapun alasan untuk menggandeng organisasi wartawan karena menurutnya wartawan lebih paham mengenai tehnik penulisan. “Salah satu kriteria penulisan adalah mengangkat fakta terkait lingkungan, nah wartawan lebih paham tentang fakta lingkungan di Kota Kendari,” ungkap pria yang juga tim penilai adipura Sultra itu.

Hadiah yang disediakan pihak panitia berupa piala, piagam, dan uang pembinaan untuk tiap kategori SD, SLTP dan SMU atau sederajat, sedangkan bagi 10 besar panitia memberikan piagam dan akan melibatkan mereka saat kegiatan pendistribusian bibit tanamam kepada masyarakat Kendari pada pelaksanaan hari lingkungan hidup sedunia tanggal 5 Juni 2008, sekaligus pemberian hadiah kepada para pemenang.

Bagi pelajar di Kota Kendari yang berminat untuk mengikuti lomba menulis lingkungan, dapat mengantarkan langsung tulisannya di Kantor Bapedalda Sultra atau di Sekertariat AJI Kendari tanggal 15-25 Mei 2008 saat jam kerja. (Waode Deli Yusniati/WAN)

Add comment Mei 15, 2008

Sultra Dipastikan Ikut PLI 2008

Kendari, Greenpress-  Tahun ini Provinsi Sulawesi Tenggara dipastikan akan ikut berpartisipasi dalam Pekan Lingkungan Indonesia (PLI) tanggal 5-8 Juni 2008 di Jakarta Convention Center.


Hal itu diungkapkan Sekertaris Bapedalda Rajab Silondae ditemui di ruang kerjanya kemarin,”Bapedalda sebagai institusi leading kegiatan di Provinsi Sulawesi Tenggara hingga saat ini telah menyiapkan berbagai hal, antara lain menggelar pertemuan dengan institusi terkait pada tanggal 5 Juni 2008 di aula kantor Bapedalda Sultram,”katanya.

Selain melibatkan 12 pemerintah kabupaten/kota yang ada di Sultra juga mengikut sertakan stakeholder lain seperti LSM yang bergerak di bidang lingkungan, pengusaha dan organisasi jurnalis lingkungan (Green Press) simpul Sultra.

Partisipasi Sultra dalam kegiatan PLI ke-12 tahun ini adalah yang pertama, hal ini menurut Ridwan S Taridala dikarenakan minimnya anggaran untuk mengikuti kegiatan sejenisnya tingkat nasional.

“Kegiatan PLI tahun ini, Pemda Sultra telah mengalokasikan 200 juta rupiah. Walaupun ini kegiatan pertama namun, kita upayakan semaksimal mungkin semua sumber daya yang ada di Sultra harus dipamerkan dalam momen itu,”ungkap orang nomor dua di Bapedalda Sultra ini yang belum genap dua bulan bertugas dalam kabinet pemerintahan baru dibawah kepeminpinan Gubernur Nur Alam.

Dalam Pekan Lingkungan Hidup tahun ini, Sulawesi Tenggara akan memamerkan produk unggulan antara lain, hasil kerajinan tangan dan suvenir khas daerah Sultra yang terbuat dari bahan alami dan limbah alami serta dari jenis daun-daunan, pupuk organik serta akan memperkenalkan mekanisme pemasaran kayu jati dari Kabupaten Konawe Selatan dari Koperasi Hutan Jaya Lestari yang telah mendapat sertifikasi ekolabel tingkat Asia Tenggara serta sejumlah inisiatif berbagai pihak di Sultra dalam pengelolaan lingkungan hidup. (Waode Deli Yusniati/WAN)

Add comment Mei 15, 2008

Bayer Young Enviornmental Envoy

Bagi kaum muda lingkungan yang memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup serta memiliki kepemimpinan dan komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan, baik di kampus maupun komunitas, Bayer Young Environmental Envoy merupakan kesempatan terbaik untukmu.

Empat duta muda lingkungan yang terpilih diantara kamu akan memperoleh kesempatan mengikuti kunjungan studi ke Jerman dan bertemu dengan utusan dari 17 negara lain untuk mempelajari dan memperoleh spektrum baru tentang pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan kalangan industri di Jerman.

Pendaftaran program Bayer Young Environmental Envoy paling lambat diterima 16 Mei 2008 (Cap Pos).

Informasi lebih lanjut lihat www.bayeryoungenvoy .com atau hubungi Corporate Communications PT Bayer Indonesia, telp. (021) 570 3661 ext. 1300, email: metamorph_pr@ yahoo.co. id.

Add comment Mei 1, 2008

Peringatan Hari Bumi di Kendari

Peringatan Hari Bumi di Kota Kendari dilakukan dengan cara mematikan mesin kendaraan selama beberapa menit dan pembagian bibit pohon kepada pengguna jalan. Tak tanggung-tanggung peringatan hari bumi di bumi anoa itu dipimpin langsung oleh pihak Polresta Kendari bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Green Press Kendari, Mahacala Universitas Haluoleo dan BP DAS Sampara Sultra.

Peringatan hari bersejarah bagi para penggiat lingkungan itu, diawali dengan bunyi sirine kendaraan Polisi Lalu Lintas, menandai dimulainya penghentian seluruh kendaraan yang melintas di Bundaran Mandonga tepat pukul 9.00 WITA dan dilanjutkan dengan mematikan mesin kendaraan selama beberapa menit.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Kepala BP DAS Sampara Ana Agung Gede Raka bersama sejumlah polisi lalu lintas mahasiswa pencinta alam dan para jurnalis membagikan sejumlah bibit pada pemilik kendaraan yang sedang berhenti dan pengguna jalan lainnya. Tak mau ketinggalan Wakil Wali Kota Kendari Ir Musadar Mapasomba MP yang datang beberapa menit setelah penghentian kendaraan langsung bergabung dan menyerahkan sejumlah anakan pohon mahoni pada warga yang melintas.

Menurut salah seorang aktivis AJI-Greenpress, Waode Deli Yusniati, peringatan hari bumi kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.”Sekarang kita sengaja mengandeng pihak kepolisian dalam hal Polresta Kendari, karena masalah lingkungan bukan hanya tanggungjawab para aktivis lingkungan, jurnalis, pemerintah tapi tak tanggung jawab publik tak kecuali unsur kepolisian,”ujarnya.

Seraya menambahkan, salah sektor yang juga menjadi penyumbang emisi yang menyebabkan pemanasan global adalah sektor transportasi, karena dalam peringatan hari bumi kali ini dilakukan dengan meminta para pengendara kendaraan mematikan mesin kendaraannya selama dua menit.”Ini dilakukan untuk mewujudkan peran serta masyarakat mengurangi polusi udara yang disebabkan asap kendaraan bermotor. Mudah-mudahan bisa menyadarkan masyarakat untuk melawan penyebab pemanasan global yang terjadi saat ini,”katanya.

Sementara itu, Siswa Pencinta Alam Dirgantara SMA 1 Ranomeeto Kota Kendari, Nining yang juga turut dalam tersebut, mengaku mendukung kampanye melawan dampak pemanasan global.“Mudah-mudahan warga yang menerima bibit pohon dari panitia aksi agar betul-betul ditanam, agar nanti bisa bermanfaat dalam mengatasi pemanasan global yang saat ini telah terjadi,”ujarnya.

Aksi penghentian kendaraan memperingati hari bumi tahun ini berlangsung di 5 titik yakni Bundaran Mandonga, Depan Kantor Polsek Kota Kendari, Perempatan MTQ, Perempatan PGSD dan Bundaran Pasar Baru. Usai menghentikan kendaraan, aksi dilanjutkan membagikan selebaran yang tentang hari bumi dan longmars yang mengambil star dari bundaran mandonga menuju Kantor Wali Kota untuk meminta Pemerintah Kota Kendari agar membuat aturan tentang penghentian kendaraan setiap peringatan hari Bumi. (Sumarlin/WAN)

Add comment April 22, 2008

Earth Day 2008

Earth Day. Hari Bumi. Apa yang akan kita lakukan hari ini? Sesuatu yang hijau kah? Coba salah satu kegiatan ini seperti menaikkan temperatur AC, mandi ala pelaut, naik sepeda ke kantor, print memakai kertas bekas, atau semudah mematikan semua alat elektronik dan lampu yang tidak terpakai dan tidak membuang sampah sembarangan.

Apapun yang anda lakukan hari ini akan membantu mengurangi polusi dan CO2 demi kelestarian lingkungan kita. Jangan lupa bahwa bukan hanya kita yang akan tinggal di bumi ini, tetapi kita akan meninggalkannya untuk anak dan cucu kita. Jadi kalau bumi sudah kita rusak sekarang, maka anak cucu kita yang akan menanggung semuanya. Ingat mereka agar kita juga merubah diri dari sekarang agar turut membantu membuat bumi kita ini bersih, asri, dan nyaman bagi masa depan anak dan cucu kita.

Jadi apa yang akan anda lakukan hari ini?

Sumber : Aku Ingin Hijau

Add comment April 22, 2008

Previous Posts


Selamat Mengakses

Berita Lingkungan Environment Galeri Info Green Press Simpul Info Kegiatan Lingkungan jurnalis lingkungan Jurnalisme dan Sastra Panduan Liputan & Penulisan TIPS Lingkungan Hidup

RSS Situs Berita Lingkungan

Kategori

Tulisan Terakhir

Arsip

Komentar Terakhir

andhika vega di Buku Tamu
sri utami Azis di Bersama Mengatasi Perubahan…
Marwan di Struktur GP Jakarta
Didin ch di Buku Tamu
ISKANDAR di Kantor Perusahaan Sukanto Tano…

Klik tertinggi

statistik Pengunjung

 

Juli 2008
R K J S M S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blogroll

Spam Blocked

Meta